Bulan terbelah

Benarkah Bulan Pernah Terbelah?
“Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)”.
Dalam al quran digital versi Depag, bulan baru akan terbelah di hari kiamat.
“Yang dimaksud dengan saat di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan “terbelahnya bulan” ialah suatu mukjizat Nabi Muhammad SAW”. Jadi kejadian ini merujuk ke pada “the future” bukan “the past”.
Hal ini agak bertentangan dengan berbagai posting di blog seperti yang saya kutip di bawah ini
“Dalam kisah-kisah hadits yang diperkuat oleh seorang ahli geologi Inggris yg muslim Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar yang meng”interpretasikan” foto Nasa tersebut sesuai kisah hadits”
(http://gubug-koe-surga-koe.blogspot.com/2007/08/mukjizat-rasulullah-membelah-bulan.html), Dalam Bukhari dan Muslim, juga dalam kitab2 hadits yang terkenal lainnya,
Mereka meminta kepada nabi Muhammad (saw) untuk membelah bulan. Kata mereka, “Seandainya kamu benar2 seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua.”
Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?”
Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah (saw) berdoa kepada Allah agar bulan terbelah menjadi dua. Rasulullah (saw) memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah (saw) berkata, “Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu.”
Demikian jauh jarak belahan bulan itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Akan tetapi orang2 kafir yang hadir berkata, “Ini sihir!” padahal semua orang yang hadir menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan seksama.
Atas peristiwa ini Allah (swt) menurunkan ayat Al Qur’an: ” Telah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang2 (kafir) menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir.” (QS Al Qomar 54:1-2)
Telah Dekat Kiamat, Bulan Telah Terbelah Allah berfirman: “Sungguh telah dekat hari kiamat, dan bulan pun telah terbelah.” (Q.S. Al-Qamar: 1)
Menurut Ibni Abbas dan Shah Abdul Al Azis, fenomena tersebut hanyalah seperti fenomena gerhana bulan biasa.
Nampaknya hadits-hadits yang menomentari fenomena tersebut cukup banyak. Sehingga ini tentunya bukan fenomena sekedar gerhana. Di beberapa tafsir dia artikan bahwa Bulan adalah simbol/ lambang bendera dan kekuatan politik Qurais di Arab, sebagaimana matahari sebagai simbol bangsa Persia.
Terbelahnya bulan menunjukkan terpecahnya bangsa Qurais dalam perang Badr yang menunjukkan kematian para pemimpin Qurais. Pecahnya perang tersebut 1 thn setelah yml saw hijrah telah membelah kekuatan kaum Quraish menunjukkan penzahiran dari ayat di atas. Ini adalah bukti rasulullah saw dapat mebelah bulan.
Melihat foto di atas, menurut Didit_ndut yang juga belajar geologi tapi belum jadi professor dan juga bukan pakar telematika sekaliber Roy Suryo :
“Saya agak berbeda dengan interpretasi Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar”. Melihat foto bulan tersebut, dia melihat beberapa kenampakan morfologi (permukaan) bulan sbb:
1. Foto tersebut memiliki dua sumber cahaya (sinar) yang dilihat dari dua arah bayangan yang berbeda dan saling tegak lurus (misal bayangan dalam cekungan yang membulat dan bayangan dari lembah yang memanjang yang saling tegak lurus).
2. Terdapat fenomena garis lurus putih, paralel dengan lembah memanjang yang nampaknya bukan akibat kerusakan sensor perekam yang sampai sekarang didit_ndut masih bingung, fenomena apakah itu?.
3. Dimensi foto itu sangat besar, berarti sekala foto itu sangat kecil.
4. Dalam foto sekala sangat kecil maka kemungkinan lembah memanjang itu memiliki dimensi puluhan or ratusan km, demikian juga diameter kawah yang terbentuk akibat hujan meteor.
5. Apabila dimensinya cukup besar, maka seharusnya dapat dilihat dari berbagai stasiun observer di bumi, kecuali apabila dia selalu berada di sisi bayangan bulan.
6. Lembah memanjang itu terbentuk bukan akibat hantaman meteor tetapi akibat proses endogen yang di bumi disebut sebagai normal fault (sesar normal).
7. Di kaki lembah terdapat gundukan sedimen memanjang dengan diameter yang besar dalam kilometer berupa spoor dan triangular facet.
8. Pembentukan spoor dan triangular facet sebagai pengisi lembah dengan kenampakan teras (bertingkat) menunjukkan proses membelahnya (fault) itu terjadi dalam beberapa tahap secara perlahan.
9. Terpotongnya spoor oleh kawah, menunjukkan adanya hantaman meteor besar setelah terbentuknya spoor atau jauh setelah terjadi pembelahan. (Jadi membelah dahulu baru terhantam meteor).
10. Proses pembelahan dan sedimentasi ini berlangsung dalam sekala waktu geologi (ratusan ribu or bahkan jutaan tahun).
11. Agak sulit diinterpretasikan bahwa kejadian ini terjadi pada masa yml Rasulullah saw hidup (yaitu sekitar 1300 tahun yll), karena proses ini kemungkinan terjadi jauh sebelum beliau lahir.
12. Bila benar bulan itu membelah pada zaman yml saw hidup, maka seharusnya juga tercatat dalam prasasti or catatan sejarah bangsa-bangsa lainnya. Karena tahun 700an Masehi, jangankan bulan yg membelah, gempa bumi dan gunung meletus sudah mulai tercatat dalam berbagai situs. Didit_ndut belum pernah menemukan situs yang mencatat terbelahnya bulan di masa yml saw hidup.
Tulisan ini bukan dibuat karena penulis tidak percaya kepada mukjizat dari Allah swt, tetapi karena takut, apabila penjelasan yang seolah-olah ilmiah dari berbagai kalangan ternyata keliru dan terbukti salah. Dengan dating radioisotop, kita dapat mengetahui umur absolute endapan di dalam rekahan tersebut, apabila ternyata umurnya mencapai ratusan ribu bahkan jutaan tahun yang lalu sebagaimana uraian di atas, maka akan memberi kesan bahwa mukjizat yml saw adalah palsu. Oleh karena itu dituntut kehati-hatian dalam melihat fenomena alam dan menghubungkannya dengan mukjizat.
Wassalam,
Didit_ndut
satu hal yang penting adalah meningkatkan ke-imanan, salah satunya iman kepada rasul dan termasuk didalamnya mukijizatnya. teori barat banyak melakukan pendekatan ilmiah u mengaburkan konsep keimanan ini. meskipun klo kta mau search lebih dalam ternyata pembuktian ilmiah juga membuktikan mukjizat yg terjadi dan semakin memperkuat keimanan
Oleh: ahmad on Juli 10, 2008
at 3:56 am
Betul pak, mukjizat haruslah meningkatkan keimanan kita, jangan sampai kita salah dalam mengartikan mukjizat, seolah terbukti secara ilmiah, padahal kita nanti hanya jadi tertawaan mereka yang non muslim.
Revelation, rationality, knowledge harusnya berujung kepada the truth. Dan ilmu pengetahuan hanyalah salah satu jalan menuju itu.
Makasih Pak Ahmad, jazakumullah
Oleh: Didit on Juli 10, 2008
at 1:23 pm
kata Roy Suryo sih, semuanya bisa dijelaskan dari sisi ilmiah, Roy Suryo pernah bilang kalau Nabi Musa membelah lautan ajah waktu itu terjadi tsunami jd lautan bisa terbelah, jadi bukan benar2 membelah, itu kata Roy Suryo…
kalau katak sih, aku percaya dgn semua yanag ada opada Nabi Muhammad, semua bisa terjadi atas kuasa Allah SWT
Oleh: Hasan Seru on Juli 11, 2008
at 3:33 am
Sebetulnya banyak sekali mukjizat yang bisa dijelaskan secara ilmiah, terbelahnya laut merah zaman Musa vs Firaun misalnya, itu adalah peristiwa alam yang periodik, bahtera Nabi Nuh juga demikian, silahkan membaca di berbagai situs dan juga di National geographic.
Yang jadi masalah adalah, semisal foto yang saya tampilkan diartikan sebagai bukti bulan benar2 membelah di jaman yml saw, dan ternyata terbukti bahwa gambar di atas menunjukkan proses endogen biasa yang terjadi jauh sebelum rasulullah saw hidup, maka sungguh kita akan merasa malu. Maksud saya menulis diatas bukan untuk tidak percaya kepada mukjizat yml saw, melainkan janganlah kita keliru melihat fenomena alam.
Oleh: Didit on Juli 11, 2008
at 6:33 am
mukjizat ada dimana-mana, yaitu, sel,DNA, tidak ada kajian ilmiah yang bisa menjelaskan darimana asal usul dua hal tersebut, proses penciptaannya secara alamiah juga diragukan.. karena terlalu sempurna
Oleh: awangfaisal on Juli 12, 2008
at 4:17 pm
Silahkan baca bukunya Prof Abdussalam, ilmuwan muslim yang memperoleh hadiah Nobel, yang mendapat inspirasi pembuktian asal muasal kehidupan dari Al Quran, dan membuktikannya secara ilmiah.
Oleh: Didit on Juli 12, 2008
at 9:26 pm
Banyak sekali mukjizat yg bisa dijelaskan secara ilmiah.
Yg membingungkan utk saya, kenapa justru banyak scientists malah banyak tidak percaya atau meragukan adanya Tuhan, setelah banyaknya melakukan penemuan.
Bahkan banyak sekali orang awampun mengatakan bahwa mukjizat Allah tidak ada hubungannya dengan science.
Oleh: Marie on Agustus 6, 2008
at 6:46 am
he he he Teh Marie…
Orang pintar dan tidak mempercayai mu’jizat itu sudah ada sejak zaman Firaun hingga sekarang.
Kalo berbicara scientists mah…. yang tidak percaya sama mu’jizat Allah swt banyak, tetapi yang percaya dan bertambah keimanannya dengan mu’jizatNya juga tidak kalah banyak. Nah…. yang paling penting adalah bagaimana kita membaca dan mensikapi mu’jizat itu…. dan jangan samapi kita salah dalam membacanya. Saya takut apabila kita salah membaca… maka akan berkesan “mu’jizatnya yg keliru” padahal sesungguhnya “tafsirnyalah yg keliru”. Wassalam
Oleh: Kodok on Agustus 6, 2008
at 7:16 am
Betul sekali….
Kita harus bijaksana dalam mengartikan mu’jizat tanpa niat untuk tidak mempercayai…. mu’jizat itu adalah suatu kebenaran…. sedangkan ilmu itu sifatnya relatif…. sesuai dimensi dari ilmu itu sendiri
Oleh: Didit on Agustus 7, 2008
at 2:33 am
Opini yg sangat bagus and saya setuju. Namun hidup di negara yg populasinya banyak yg tidak percaya adanya kekuatan Tuhan, banyak orang mentertawai & membodohi kita yg percaya bhawa mukjizat ataupun bencana alam krn kekuatan tangan Nya, karena mereka selalu mengkaitkannya dengan ilmu alam.
Contoh kecil diluar artikel diatas. Banyak yg bertanya “kenapa kita harus bersyukur atau berterima kasih kepada Tuhan karena saya dpt rejeki? – kan ini hasil jerih payah saya”
Hal2 itu yg membuat mata kita makin terbuka bahwa banyaknya manusia didunia ini tidak mengenal adanya Yang Maha Kuasa.
Oleh: Marie on Agustus 8, 2008
at 2:40 am
Tidak masalah…. disadari oleh mereka atau tidak sesungguhnya banyak dari mereka sudah bersyukur. Mulai dari care dng keluarga mereka, care dng tetangga mereka, care dengan lingkungan hingga care dengan masyarakat. Sebetulnya mereka itu bersyukur juga, soal rasa ini ditujukan kepada or diterima Tuhan or not biar Dia yang nentuin.
Daripada orang yang selalu bayar zakat, infaq, tapi tetap korupsi, nyogok, mencuri atau juga tidak peduli ama lingkungan, tetangga dan bahkan negara…. wehhh
Oleh: Didit on Agustus 8, 2008
at 5:57 am
betul pak
Oleh: zurkarnain bin ramli on Juli 7, 2009
at 10:00 am
Assalamu’alaikum,
mu’jizat adalah sesuatu kejadian yang luar biasa yg kadang jauh dari jangkauan pikiran manusia. Dengan adanya mu’jizat ini manusia diuji, akan semakin/menjadi berimankah dia atau semakin/menjadi kufurkah dia.
Ada mu’jizat yang bisa dibuktikan dan ada juga yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Peristiwa Isra’ Mi’raj, bagaimana kita bisa membuktikan secara ilmiah???
Tapi ada juga Allah sengaja menunjukkan kepada kita beberapa mu’jizat yang bisa dikaji secara ilmiah: “…pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. 10:92)”
Dr. Mauricce Buchaille, ilmuwan Perancis yang meneliti fakta sejarah Fir’aun, kesulitan menentukan mana diantara dua mummi Fir’aun yang merupakan Raja Mesir waktu zaman nabi Musa. Dia mendapatkan satu petunjuk yang dia sendiri pada mulanya memang tidak mempercayainya. Petunjuk itu adalah Al Qur’an Surat 10 ayat 92 yang menyatakan bahwa Fir’aun mati tenggelam di laut merah sewaktu mengejar Nabi Musa dan Bani Israil. Mencoba mencari tahu, Dr. Mauricce Buchaille memeriksa dua mummi itu, dan ternyata dalam saluran pernafasan salah satu mummi tersebut terdapat sejenis ganggang yang hidup di laut merah.
Untuk lebih jelas dan detail lihat http://www.pondokrenungan.com
Wassalamu’alaikum
Oleh: Rachmat on September 16, 2008
at 4:34 pm
Kalo mau diskusi soal Musa membelah lautan, saya kira bukti ilmiah yang mendukung fenomena tersebut cukup banyak, dan bagaimana laut merah terbelah, faktor alam yg mempengaruhi… cukup dapat dijelaskan secara ilmiah.
Kalo ingin diskusi soal Isra’Mi’raj… nah ini yang berat, karena dimata saya kejadian ini tidak berdimensi ilmiah. Apalagi bila YML bertemu dengan sang Khalik di Sidratul Muthaha…. saya kira ini bukanlah sesuatu yang berdimensi ilmiah. Kenapa?? karena dimensi ilmu itu tetap suatu makhluk… sedangkan sang Khalik tidak mengenal dimensi…. bertemunya YML saw dengan Allah taala…. telah keluar dari segala dimensi, dan ini tidak dapat diilmiahkan.
Oleh: Didit on Desember 5, 2008
at 6:51 am
adakalanya segala sesuatu harus dibuktikan dengan logika pengetahuan dapat berkembang maka itu di jadikan penambah iman kita. tetapi masalah ketuhanan yang tidak sekedar dengan logika tetapi ciptaannya harus di buktikan dengan pengetahuan kan
Oleh: taddo on Februari 16, 2009
at 3:02 pm
Setuju, makanya apabila akan melakukan penafsiran yg sifatnya ilmiah, maka kita pun harus bersikap ilmiah, artinya penafsiranya bisa keliru. Ayatnya mah tidak berubah, karena penafsiran yg keliru khan tidak berarti ayatnya keliru….. ya khan??
Oleh: Didit on Februari 17, 2009
at 1:41 am
asw..
ikut nimbrung..
katanya hadits ini dhaif ya?? terus belum lagi orang yang namanya Abu Muhammad ibn Shadiq yang ditengarai sebagai penerjemah berita tersebut bahkan dcurigai telah membuat hoax yang sangat meyakinkan.. ada di sini http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2006/03/hati-hati-dengan-ibn-shadiq.html
was..
Oleh: orang bandung on Februari 17, 2009
at 4:20 am
hmm…. but penafsiranya khan bukan semata hadits, melainkan Al Qomar ayat 1 dst….
btw, kalo saya menafsirkan ayat tersebut bukanlah secara zahir.. bulan terbelah…..
and kalo ada yg menafsirkan bahwa memang bulan terbelah di jamab rasulullah (past)… pun tidak mengapa..
and bahkan ada yg menafsirkan … bulan akan terbelah (future) pun menurut saya tdk mengapa…
Yang jadi masalah,,,,, hanyalah…. menurut saya… foto di atas tidak ada hubungannya dengan bulan terbelah,,,,…. dan patahan di atas menurut saya tidak terjadi di jaman rasulullah saw… itu saja.
Oleh: Didit on Februari 17, 2009
at 7:13 am
saya hanya akan meralat pendapat mas Didit yang mengatakan bahwasanya Nabi membelah bulan karena permintaan kaum musyrik Quraisy: “Seandainya kamu benar2 seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua.”
yang sebenarnya terjadi menurut hadits yang shahih adalah mukjizat yang diminta kaum musyrik Quraisy adalah agar Nabi menjadikan bukit Shafa sebagai emas dan menyingkirkan gunung-gunung dari mereka.
Abdullah Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata: Penduduk Makkah meminta kepada Nabi agar beliau menjadikan bukit Shafa sebagai emas dan menyingkirkan gunung-gunung dari mereka. Lalu difirmankankan kepada beliau: ‘Terserah kamu, apakah engkau memilih bermurah hati kepada mereka, ataukah mengabulkan permintaan mereka. Tetapi apabila mereka mendustakannya (yaitu mukjizat dijadikannya bukit Shafa sebagai emas), mereka akan dibinasakan seperti orang-orang sebelum mereka.’ Beliau menjawab: ’saya memilih bermurah hati kepada mereka.’ Lalu Allah menurunkan ayat ini.”
(HR. Ahmad dalam Musnad 1/258, Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah 3/52 menyandarkan kepada Nasa’i seraya berkata: “Sanadnya bagus.”, Ibnu Jarir Ath Thobari 15/108, Al-hakim 2/362 dan beliau berkata: “Shahih sanadnya dan tidak dikeluarkan oleh keduanya”, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma’ 7/50: Para perawinya adalah perawi shahih.”.)
Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwasanya penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah agar memperlihatkan kepada mereka mukjizat. Maka beliau menampakkan kepada mereka terbelahnya bulan. (HR. Bukhari dalam Shahih-nya nomer 3637 dan 3868, dan Muslim dalam Shahih-nya nomer 2802)
seandainya pendapat mas Didit adalah benar bahwasanya mukjizat yang diminta oleh kaum musyrik Quraisy adalah terbelahnya bulan kemudian Nabi mengabulkan permintaan mereka, namun setelah itu mereka tetap mengingkarinya (bahkan menyebut mukjizat tersebut adalah sihir), maka Allah akan membinasakan mereka sebagaimana Atsar dari Ibnu Abbas di atas.
Oleh: salafy on Maret 9, 2009
at 6:12 am
kemudian saya juga akan menjawab perkataan ORANG BANDUNG, “katanya hadits ini dhaif ya??”.
hadits terbelahnya bulan termasuk hadits shahih, bahkan mencapai derajat mutawatir. di antara para sahabat yang meriwayatkan adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah, Jubair bin Mu’thim, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, dan sebagainya Radhiallahu’anhum.
berikut para ulama yang menyetujui derajat mutawatirnya hadits ini, di antaranya:
- Al-Imam ibnu Abdil Barr (lihat Fathul Bari’ 7/186)
- Al-Qadhi Iyadh (Asy-Syifa’ bi ta’rifi Huquq Al-Musthafa 1/183)
- Al-Imam Abu Fadhl Al-Iraqi (Manzhumah Sirah)
- Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani (lihat Nazhmul Mutanatsir hal.212)
- Al-Imam Al-Qurthubi (Al-Mufhim 7/403)
- Tajuddin As-Subki (lihat Mazhmul Mutanatsir hal.211)
- Al-Hafidz Ibnu Katsir (Tafsir Al-Quran Al-’Azhim 4/279, Al-bidayah wan Nihayah 6/74 dan 77, Tuhfah Thalib hal.178, dan Al-Fushul fi Siratir rasul hal.231)
- Al-Imam Al-Munawi (Al-’Ujalah As-Saniyyah ‘ala Alfiyah Sirah nabawiyah hal 53)
- Al-Imam Asy-Syaukani (Fathul Qadhir 5/120)
- Al-Imam As-Saffarini (Lawami’ul Anwar 2/293)
- dan sebagainya…
memang ada ulama Ahlus Sunnah yang meragukan kemutawatiran hadits ini, namun argumen mereka sangat aneh dan kropos. di antaranya adalah Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi dan Syaikh Rasyid Ridha.
Oleh: salafy on Maret 9, 2009
at 6:26 am
Terimakasih Pak Salafi atas uraian dan penjelasannya, saya sendiri lebih percaya bahwa membelah bulan lebih diartikan sebagai terpecahnya bangsa Arab di masa itu. Saya lebih melihat bahwa gambar di atas (menurut saya) tidak bisa dijadikan bukti bahwa bulan telah terbelah pada jaman rasulullah.
Oleh: Didit on Maret 9, 2009
at 7:48 am
kalau diartikan sebagai terpecahnya bangsa arab, hal itu malah lebih jauh lagi kemustahilannya. hal ini bisa ditinjau dari dua sisi:
1. pada dasarnya, makna suatu lafadz dibawa kepada dzahirnya sampai ada lafadz lain yang memalingkan makna lafadz tersebut dari dzahirnya. sepanjang sepengetahuan saya, tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang memalingkan makna terbelahnya bulan menjadi terpecahnya bangsa arab, padahal merekalah yang paling mengerti keadaan dan maksud perkataan Nabi sebenarnya. demikian juga dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang hidup setelah mereka.
2. mustahil terpecahnya bangsa arab merupakan suatu mukjizat karena pada awalnya bangsa arab sudah terpecah menjadi suklu-suku dan masing-masing saling berbangga diri atas kesukuannya. kalau mau dibilang mukjizat, mustinya Nabi justru menyatukan bangsa arab karena persatuan lebih baik daripada perpecahan.
terlepas dari benar atau tidaknya photo tersebut sebagai bukti terbelahnya bulan, kita harus mengimani dan membenarkan setiap khabar yang datang dari Nabi dengan mengatakan SAMI’NA WA ATHO’NA (kami mendengar dan kami mentaati)
Oleh: salafi on Maret 18, 2009
at 4:52 am
Saya setuju sami’na wato’na dalam arti memang ayat itu benar. Saya lebih setuju kepada pecahnya bangsa arab dan wafatnya sahabat rasul pada masa itu dibandingkan dengan terbelahnya bulan (moon) justru membangun kepercayaan dan keitaatan saya. Namun saya tidak akan mengatakan bahwa yang mempercayai bulan terbelah secara “zahir” adalah salah or malah keliru. Saya yakin pemahaman akan kebenaran mukjizat itu akan kembali kepada diri kita masing2.
Bulan di mata saya adalah obyek yg bisa dilihat dari satu sisi belahan bumi secara bersama, artinya tidak hanya bangsa arab saja yg bisa melihatnya….. bahkan saya sendiri belum melihat/ membaca dokumentasi sejarah bangsa2 arab atas peristiwa itu…. apalagi dari bangsa2 lain yg seharusnya juga dapat menyaksikan kejadian itu. Pencatatan peristiwa2 semesta dan astronomis sejak abad ke 2 M cukup detil, dan yml rasulullah saw sendiri hidup di abad ke 7 M. Saya sendiri dalam hati menaruh harapan untuk bisa menemukan bukti itu secara zahir.
Kalau sekiranya memang terbukti bahwa bulan membelah secara zahir, bagi saya tidak perlu ada keraguan untuk meyakininya….. namun buktinya bukan foto di atas. Mari bersama bukti itu dicari.
Oleh: Didit on Maret 18, 2009
at 6:33 am
kalau anda menafsirkan bahwasanya terbelahnya bulan itu adalah terpecahnya bangsa arab dan wafatnya para sahabat nabi, bisakah anda membuktikan baik dari pendekatan ahli hadits maupun ahli sejarah?
sebutkan satu orang saja dari kalangan sahabat atau tabi’in atau tabi’ut tabi’in yang menegaskan bahwa maksud dari terbelahnya bulan adalah terpecahnya bangsa arab atau wafatnya para sahabat Nabi!
Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwasanya penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah agar memperlihatkan kepada mereka mukjizat. Maka beliau menampakkan kepada mereka terbelahnya bulan. dan orang-orang melihat bukit Hira dari celahnya. (HR. Bukhari dalam Shahih-nya nomer 3637 dan 3868, dan Muslim dalam Shahih-nya nomer 2802)
maaf, hadits ini sebelumnya saya posting dalam keadaan terpotong dan di atas adalah versi lengkapnya.
nah, saya kira sangat sulit bahkan mustahil untuk memalingkan makna terbelahnya bulan menjadi terpecahnya bangsa arab karena dalam hadits di atas sangat jelas dikatakan bahwa orang-orang dapat melihat bukit Hira dari celahnya. artinya benar-benar ada sesuatu yang terbelah/terpecah dan bukan dalam pengertian konotasi/ungkapan.
Oleh: salafi on Maret 18, 2009
at 7:33 am
maaf, saya tidak akan berpusing-pusing mencari bukti terbelahnya bulan karena semakin kita terlarut dalam kesibukan mencari bukti tersebut, maka kita akan semakin jauh dari menyibukkan hal yang lebih pentig yaitu menanamkan mengimani dan membenarkan dalam diri kita sekalipun tanpa bukti.
seperti contohnya adalah hadits tentang mencelupkan lalat ke dalam makanan atau menuman jika terjatuh ke dalamnya. sepintas hadits ini sangat aneh dan konyol, bahkan bertentangan dengan ilmu medis. namun kita tetap harus mengimani dan membenarkannya tanpa mempertanyakan dan mempertentangkannya dengan ilmu manusia yang terkadang salah terkadang benar, sedangkan hadits itu merupakan wahyu yang diwahyukan kepada Nabi.
Oleh: salafi on Maret 18, 2009
at 7:44 am
bukankah hadits yang saya tulis di atas juga sesuai dengan hadits yang saudara salafi tulis??
Namun saya yakin bahwa ayat Quran itu benar adanya, tinggal apakah itu konotasi atau bukan, itu saya kembalikan kepada masing-masing.
Mohon maaf, tulisan ini saya upload udah beberapa bulan yg lalu, semoga saya masih menemukan beberapa tafsir dari hadits yang saudara tulis. Jazakumullah atas komentarnya, semoga kebenaran bisa terungkap.
Inti dari tulisan saya adalah ketidak setujuan saya bahwa foto di atas adalah bukti bulan terbelah, terlebih bila kejadiannya di masa YML Rasulullah saw hidup. Foto diatas lebih menggambarkan proses endogen biasa, yang normal ada di setiap bulan or planet yang sudah memadat. Dan proses dari adalah ribuan, jutaan tahun… or jauh sebelum YML saw hidup. Silahkan melihat di berbagai situs USGS, Geology, Tectonism dsb, lengkap dengan foto2 tentang fenomena yg serupa di bumi. Bahkan umur kapan fenomena tersebut di bumi dapat di prediksi. Namun, walaupun retakan seperti itu normal di bumi, namun bumi sendiri tidak pernah membelah,…. kecuali permukaannya yg saling bergeser.
Oleh: Didit on Maret 19, 2009
at 6:33 am
bukan itu.
yang saya maksud adalah atsar dari sahabat atau tabi’in atau tabi’ut tabi’in atau siapapun ulama ahli hadits yang menafsirkan makna terbwelahnya bulan adalah terpecahnya bangsa arab. ataukah penafsiran anda ini hanya sekedar analogi semata yang tanpa dasar?
sedangkan mengenai poto tersebut, menurut saya benar atau tidaknya tidak perlu kita pusingkan. kalau benar, ya monggo, kalau salah ya monggo. yang paling utama adalah kita mengimani dan membenarkan bahwa Nabi mempunyai mukjizat terbelahnya bulan.
dan ini adalah pendapat ijma’ ulama.
Oleh: salafi on Maret 20, 2009
at 1:18 am
Saya mempermasalahkan foto tersebut, karena menurut ilmu yg saya ketahui fenomena foto tersebut tidaklah logis diartikan sebagai bukti bulan membelah di jaman YML Rasulullah saw. Karena saya yakin secara ilmiah tidak sulit membuktikannya. Dan alangkah sedihnya saya, bila akibat kesalahan tafsir dari foto tersebut justru akan membawa kita kepada keingkaran terhadap mu’jizat YML saw. Oleh karena itu saya mencoba menulis interptretasi ini. Jazakumullah komentarnya Pak Salafi.
Oleh: Didit on Maret 23, 2009
at 5:34 am
terbelahnya bln menjadi dua bagian dan menyatu kembali itu adalah mukjizat YML Rasulullah SAW,hal tersebut u/meyakinkan kaum kafir atas kebenaran YML Rasullah saw sebagai nabi utusan alloh.
Dan sbg tanda bahwa kiamat sungguh telah dekat.
(Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)
Wasalam
Oleh: Tatang Suherlan on Maret 31, 2009
at 12:36 pm
Foto itu mmg meragukan,dan analogi anda ttg trpchny bngsa arab juga tdk brdasar, yg pnting dr aspek sumbr trtulis (quran n hadist) mmg jelas mrujuk bhwa bln telah terbelah scr real yg diliat mata kepala org2 qurasy saat itu,seperti halny nabi Joshua yg pernah menghntikan bumi,shg seolh2 mthr tidak terbenam sesaat. YANG JELAS APAKAH ITU MERUPAKAN TAMPAKNY SAJA ATAUPUN BNR2 TRBLAH,QT HARUS MNGIMANI…bhwa itu adalah kuasa Allah. Ktika Musa brdoa,dan anggaplah ada tsunami lalu laut surut,itupun tdk mengurangi kehebtn mukjizatny,meskipun qt mngkj scr ilmiah,so yg diperhatikan adalah relasi antara ktika para nabi brdoa dan fenomena alam yg trjd sesudah nabi itu brdoa,jd tdk penting bhwa itu krna tsunami atupun sbgnya
Oleh: Lukman on Juni 7, 2009
at 3:30 am
bagi orang antara iman yang kuat dan sebaliknya, Terbelahnya bulan dimasa Nabi Muhammad SAW merupakan bukti dan bukan cerita bohong belaka bagi yang beriman akan semakin tebal rasa keimanannya Hadist dan Al Quran merupakan bukti nyata (Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)
Oleh: hendro geol on Juni 19, 2009
at 9:51 am
Kalau nabi Membelah matahari pun sy percaya apalagi bulan
Oleh: Mortezaimami70 on Juli 13, 2009
at 5:20 am
http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/8195467.stm
“In this case, two rocky bodies are thought to have slammed into one another in the last few thousand years.”
Oleh: Hanson Prihantoro on Agustus 12, 2009
at 9:04 pm
Maaf, lama ngga OL…. Buat Pak Hanson bukankah berita BBC itu adalah mirip teori pembentukan bulan yg kitapelajari selama ini. Dan itu terjadi milyaran tahun yll…. dan proses tabrakan hingga menjadi stabil juga membutuhkan waktu ribuan – juataan tahun.
Buat Pak Mortezaimami, bahwa yml SAW diberi kelebihan mukjizat apapun dengan seijin Allah kenapa tidak, masalahnya simple….. menurut say foto itu bukanlah bukti bulan terbelah di jaman rasulullah, itu saja hehe he
Buat Pak Tatang, saya setuju
Buat pak Lukman dan Pak Hendro geol, jazakumullah atas komentarnya
Oleh: Didit on Agustus 13, 2009
at 12:20 am
erry percaya. meskipun gambarnya ngga terlalu jelas, tapi kalau kita mau baca sejarah Nabi Muhammad SAW, sekitar 5 tahun sebelum hijrah peristiwa ini emang pernah terjadi,loh. lagipula haditsnya ada, ayatnya juga ada. apa yang bisa kita pungkiri?
mukjizat itu bukan kehebatan ilmiah, soalnya mau pake ilmu apapun, mukjizat ngga akan bisa kita deskripsikan kejadiannya.
ada pendapat lain? ^_^
Oleh: erry on September 13, 2009
at 8:27 am
Memang Betul bulan terbelah dua…Tetapi apabila nabi melakukan mukjizat itukita seharusnya mempercayai nya bukan lah lagi merendah rendah kan nya….
Ya Allah,Biarkanlah semua manusia yang kau ciptakan berasa malu dan takut kepada mu.
…………..Amin………………..
Oleh: Aisya on September 19, 2009
at 6:42 am